BEGAWAN KUPIE : POLITIK, KOPI DAN LITERASI ALA DAHNIL ANZAR SIMANJUNTAK

BEGAWAN KUPIE : POLITIK, KOPI DAN LITERASI ALA DAHNIL ANZAR SIMANJUNTAK
Oleh: Saipul Bahri
“Kita mungkin akan menemui banyak kekalahan tapi kita tak boleh dikalahkan” Maya Angelou. Kalimat itu adalah esensi dari semangat perjuangan anak muda yang tetap masih punya percikan-percikan api semangat di masa depan. Dahnil Anzar Simanjuntuk, ia dikenal sebagai representasi politik anak muda. Pasca purna tugas sebagai ketum PP Pemuda Muhammadiyah tahun 2018 dan masuk ke kancah politik elit dalam tim inti pemenangan Prabowo-Sandi pada kompetisi pilpres 2019 yang lalu, memungkinkan Dahnil memperkaya pandangannya terhadap realitas politik di berbagai tingkatan, baik lokal maupun nasional.
Meskipun kemenangan pilpres yang lalu belum berpihak pada perjuangannya, Dahnil Anzar tampak tak patah arang. Ia lekas bangkit dan berdiri tegak (move on) untuk kemudian melanjutkan upaya pelayanannya terhadap masyarakat dengan kontribusi positif pada negeri ini. Belakangan, salah satu kontribusi yang dilahirkannya adalah dengan pendirian kafe Begawan Kupie and Public Library, di kota Medan. Bukan hanya akan membuka lapangan pekerjaan bagi generasi muda, kafe ini juga menginisiasi kafe yang lebih inovatif dengan meletakkan rak-rak berisi buku di sudut kafe. Pelak upaya ini punya nafas yang sama dengan misi pendirian Republik Indonesia: Mencerdaskan kehidupan bangsa, lewat mengaktifkan ulang minat masyarakat kepada tradisi literasi yang sudah hampir hilang. Kontribusi ini menjadi bukti bahwa perjuangan Dahnil Anzar akan tetap berlanjut.
Belum lama ini, persis pada 7 September 2019, kota Medan mendapatkan sebuah gebrakan kecil, inovatif dan progresif lewat pendirian kafe “Begawan Kupie and Public Library’. Tempat ini digagas sejak mula ditujukan sebagai simbol gerakan progresif dan melawan tendensi kafe yang belakangan identik dengan tempat kalangan-kalangan kelas menengah menenggak atau memuaskan hasrat narsistik dan hedonistiknya. Kita sering melihat kafe menjadi salah satu ruang kegemaran anak muda, khususnya di kota Medan. Biasanya kafe hanya dijadikan tempat untuk bertemu teman/pacar, numpang wifi, nonton bola serta melihat live musik. Kondisi itu mengkonstruksikan kafé hanya sebagai tempat nongkrong dan pemuas eksistensi belaka.
Dengan Begawan Kupie and Public Library, Dahnil mencoba mengembalikan posisi kafe sebagai tempat yang strategis dalam membicarakan seluruh polemik, problem politik di ruang publik. Seperti dalam novel sastrawan Mesir, Naguib Mahfouz dalam ‘Karnak Café’, Kafe yang berada di jalan Sei Serayu, Medan Baru, diharapkan mampu mengagregasi dan mengakumulasi serta melahirkan pemikiran-pemikiran politik yang baru, suatu pemikiran yang mampu mengubah secara signifikan realitas sosial-politik-ekonomi yang lebih baik.
Merujuk pada citra seorang Dahnil Anzar, yang identik dengan representasi politik bagi anak muda yang nasionalis-religius, membutuhkan dukungan dalam membongkar stigmatisasi tempat tongkrongan bukan hanya sekedar tempat biasa menikmati kopi dan menatap senja, melainkan bermetamorfosis menjadi tempat ngopi, literasi dan diskusi, begitu ala Dahnil.
Lebih lagi, dalam mengubah mindset anak muda dari kebiasaan lama menuju yang baru tidaklah mudah, Begawan yang ditawarkan ala Dahnil Anzar Simanjuntak membutuhkan kerja-kerja keras, dan strategis diskursif hegemonik yang berbobot. agar setiap orang yang masuk ke dalamnya bisa menikmati setiap seruputan kopi dan narasi-narasi dari buku yang telah disediakan. Eksperimen tradisi ngopi dan literasi tentu bukan tanpa resiko yang besar, sebab, paradigma yang dilawan adalah kebiasaan mayoritas kelompok yang seharusnya kritis, kaum muda.
Begawan Kupie and Public Library
Secara filosofis, Begawan diartikan sebagai orang-orang yang ahli, intelektual dan cerdas. Hari ini, makna itu sebenarnya mulai banyak terlupa atau bahkan tak pernah terdengar. Pun, sama halnya dengan situasi Kota Medan saat ini, yang sudah beberapa dekade terakhir tidak kunjung menjumpai Begawan yang mampu mengoperasikannya. Demikianlah Begawan Kupie and Public Library tentu saja didirikan bukan dengan visi yang kosong, ia mesti diisi dengan pemikiran-pemikiran ahli, intelektual yang diharapkan aplikatif terhadap kebutuhan konkret masyarakat.
Muncul dari kegundahan hati seorang Dahnil yang melihat maraknya kehadiran tempat-tempat tongkrongan ala anak muda yang hanya memuaskan hasrat individualistik dan minim empati, bahkan pada peracik minumannya paling awal, petani kopi. Begawan Kupie and Public Library, sebagai implikasi praktis dari keresahan hati tersebut, diharapkan mampu membantu generasi muda, bukan saja menajamkan kualitas intelektualitasnya, namun mengasah sikap simpatik dan empatik mereka sehingga entitas dari kultur politik Indonesia ke depan tidak lagi didominasi aspek-aspek teknokratis yang kaku, melainkan membentuk keberpihakan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini (ter)marjinal(isasi). Tidak hanya itu, secara politik pun, gagasan yang dibawa oleh Dahnil sangat sesuai/relevan dengan tantangan generasi saat ini. Itu bisa dilihat dari koleksi buku yang dipunyai kafe tersebut yang tidak melulu memamerkan buku-buku terjemahan dari Inggris, Prancis dan lainnya, buku-buku lain yang dihimpun oleh Dahnil tak lepas dari buku perjuangan dan pergerakan tokoh bangsa dan sejarah Indonesia yang akan sulit didapatkan di toko-toko buku mainstream. Harapannya, upaya keras Dahnil dan kawan-kawannya yang lain Asal kaum muda, khususnya kota Medan sebagai generasi penerus mampu memahami gerak dinamis dunia sosial, ekonomi dan politik—terkhususnya, di Indonesia.
Lebih lanjut, gagasan yang ditawarkan Dahnil ini harus dilihat sebagai salah satu jawaban dari tantangan yang kian mendesak—yakni masyarakat, terutama kaum muda yang semakin jauh dari tradisi membaca (laporan UNESCO, Indonesia menempati posisi kedua paling bawah sebagai negara dengan minat membaca yang rendah dari 63 negara yang disurvey). Secara semiotik, bila kita kembali pada bahasan analogi cafe dalam sebuah sistem yang utuh dalam kerangka perjuangan, Begawan Kupie and Public Library merupakan kesatuan yang saling mendukung dalam sinergisitas, ngopi dan literasi menjadi keseimbangan dalam proses pembangunan intelektual generasi muda untuk menatap negeri ini yang lebih baik ke depannya.
Sebab, tanpa sinergitas dalam menjaga keseimbangan tersebut, akan sulit bagi kita menciptakan generasi dengan kemampuan intelektual mutakhir sekaligus memahami subkultur dan pluralitas yang menjadi tantangan yang sangat sensitif bagi bangsa ini. Medan, khususnya, membutuhkan stamina tambahan berbasis literasi untuk ditularkan seluas-luasnya.
Politik literasi yang dipacking dalam satu wadah yang bernama Begawan Kupie and Public Library menjadi solusi yang layak diapresiasi dalam upayanya merekatkan kekuatan generasi muda. Inilah yang diyakini oleh Dahnil Anzar Simanjuntak dalam memandang masa depan. Memastikan bahwa generasi berikut harus dapat sprint mengejar ketertinggalan, memang berat, namun bukan tidak mungkin. Sebab Medan bukan hanya rumah kita, TAPI kota kita…
Penulis adalah Akademisi Departemen Ilmu Politik FISIP

Tinggalkan Balasan